Jurnal Perjalanan Musuffer

Keresahan Yang Tak Berujung

Hallo, kenalin namaku Sukma.
Gausah banyak perkenalan lah ya toh ga penting juga.
Jadi, tujuanku membuat ini tu sebagai pengarsipan ceritaku di band yang sedang aku dan teman temanku perjuangkan, btw aku bukan expert bukan pro dan apapun itulah, aku cuma resah dengan kehidupanku sendiri dan mencoba bermain musik.


November 2024

Malam itu aku dan teman baruku (Adi Safari) di sebuah kedai kopi bernama Malawas, malam yang cerah dengan secangkir es kopi yang dibuatkan oleh seorang barista cantik nan menawan yang sedang aku Gambar, kita berdua ngobrol tentang banyak hal, terutama curhatan Adi Safari yang menurutku sangat memilukan, pasalnya dia bercerita tentang kehidupan bermusiknya yang sudah berjalan kurang lebih 15 tahun dan sama sekali belum mempunyai album dari band yang dia naungi.
Muncullah guyonan keecil disitu, ajakan untuk membuat proyek band Rock dan itulah awal mula berdirinnya Maneer.

Merespon ajakan Adi Safari untuk membuat proyek itu, orang yang pertama muncul di kepalaku adalah teman karib ku di UKM Musik Seven yaitu Edo.
Beberapa hari setelah obrolan panjang malam itu, ku ajak lah edo bertemu dengan Adi Safari untuk memperjelas ajakan dia, dan sepakatlah kita untuk jamming di tempat edo.

Beberapa Minggu Kemudian

Malam dimana aku, Edo, dan Adi bertemu di studio latihan Souns & Soul. Masuk lah kita ke dalam studio dan mengcover lagu lagu dari The Sigit.
Di tengah ke asyikan kita jamming muncullah ide ide membuat lagu, dan lahirlah materi Maneer pertama, lagu rock dengan sentuhan the sigit, wkwkwk ya mau gimana lagi reverensi kita kala itu baru the sigit.
Di tengah perbincangan hangat setelah jamming Adi Safari mengajak kita ke panggung pertama kita di Lik Mendelik, gigs kecil yang di inisiasi oleh anak anak Bengkel Seni Untidar, dan masuklah Bagas sebagai Main Power baru yang mengisi pondasi gitar kita di Maneer.

10 November 2024

Bermodalkan materi yang baru menetas dan lagu andalan untuk di cover, panggung pertama kita sebagai maneer pun terlaksana dengan penuh hiruk kikuk. Malam itu dengan sebotol ciu bekonang yang di berikan panitia acara, tanpa ragu ku tenggak botol kemasan itu dan memasukan 1/4 air tersebut kedalam tubuhku.
Efek dari air tersebut membawaku ke ruang dimana aku sudah sedikit kehilangan rasa malu dan menjadi agak ugal ugalan panggung.